TINGKILAN

ASAL USUL MUSIK KESENIAN

Tingkilan merupakan salah satu jenis kesenian musik masyarakat Kutai. Musik ini lahir seiring dengan masuknya Islam ke Kutai dan sedikit banyak memiliki kesamaan bunyi dengan kesenian rumpun Melayu lainnya. Tingkilan lantas menyebar melalui proses akulturasi dengan kebudayaan setempat, membuat musik ini kini terbagi menjadi tiga jenis (Hulu Mahakam, Tengah, dan Pantai) yang memiliki karakternya masing-masing. Kata tingkilan itu sendiri berarti menyindir lewat pantun dan musik. Makna ini masih bertahan, walaupun struktur musiknya itu sendiri telah mengalami berbagai bentuk perubahan.

 

DARI HULU MAHAKAM MENJADI

KESENIAN KERAJAAN

Kabupaten Kutai Kartanegara secara geografis terletak di daerah khatulistiwa dengan posisi antara 115o 26’ BT-117o 36’ BT dan 1o 28’ LU-1o 08’ LS. Luas wilayahnya 27.263,10 km2 serta memiliki 18 wilayah kecamatan dan 182 desa/kelurahan. Batas-batas kabupaten Kutai Kartanegara antara lain:

  • Utara         : Kabupaten Bulungan
  • Timur        : Selat Makassar dan Kab. Kutai Timur
  • Selatan      : Kabupaten Pasir dan Kota Balikpapan
  • Barat         : Kabupaten Kutai Barat

Tofograpi wilayah yang berbukit-bukit dengan rata-rata ketinggian 500 meter dari permukaan laut mempengaruhi perkembangan kehidupan sosial dan kebudayaan di kabupaten ini. Daerah yang mempunyai banyak sungai serta memiliki sungai mahakam ( 920 km), sungai terpanjang di Kalimantan Timur, ini menjadi urat nadi perekonomian penduduknya. Kabupaten ini pun selalu mengadakan upacara adat Erau yang merupakan warisan Kerajaan Kutai. Dalam sebuah upacara Erau ada tiga motif kebudayaan lama kutai-kutai yang mengemuka, yaitu:

  1. Kebudayaan Pantai (kebudayaan Melayu dengan nafas Islam).
  2. Kebudayaan peninggalan Kesultanan ( Kutai, Sambaliung, Gunung Tabur, Bulungan, dan Pasir Belengkong).
  3. Kebudayaan suku Pedalaman.

Tingkilan termasuk kedalam kebudayaan pantai. Musik tingkilan berawal dari lahirnya penyampaian hasrat pelaku musik atau peningkil3 untuk melepaskan diri dari lelah dan mengisi waktu luang sehabis behuma atau bertani atau bekerja. Musik ini mulai populer  tidak lama setelah agama Islam mulai dikenal di Kerajaan Kutai Kartanegara pada awal abad ke-16 dan berkembang pada awal abad ke-17 yakni pada masa pemerintahan Sultan Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa (sekitar tahun 1635). Hal ini terbukti dengan adanya Undang-Undang Dasar Kerajaan yang disebut Panji Selaten dan Kitab Peraturan yang disebut Undang-Undang beraja nanti yang jelas bersumber kepada hukum Islam. Sejak itulah agama Islam berkembang dengan pesat hingga saat ini. Sebagian besar penduduk Kutai menganut agama ini terutama yang berada di daerah pantai dan tepi sungai mahakam.

Pada suatu masa, alunan musik bernuansa melayu dan sarat dengan sindiran ini bahkan mencapai kedudukan sebagai kesenian persembahan untuk dan perwakilan Kerajaan Kutai. Para peningkil yang diakui kehebatannya, di Undang ke kerajaan untuk menghibur dan menyambut tamu-tamu kerajaan.

Terjadi kesimpang siuran informasi mengenai siapa yang lebih dulu menyebarkan kesenian ini. Menurut para pelakunya, tingkilan berasal dari Hulu Mahakam (terletak dipedalaman) dan kemudian menjadi populer dimasa kerajaan hingga diangkat menjadi kesenian kerajaan. Namun, ada informasi lain yang mengatakan, sebagaimana agama Islam., kesenian di Kutai masuk terlebih dahulu kedalam Kerajaan, lantas baru disebarkan oleh otoritas kepada masyarakatnya. Asal-usul tingkilan sebagai musik kerajaan menimbulkan kebanggaan pada sebagian penggelut kesenian tersebut. Para pelaku musik tingkilan “modern” pun masih merasakannya, sebagaimana dituturkan informan AF:

“Hulu mendengarnya dari kerajaan. Itu kesenian dari kerajaan. Lalu yang di hulu-hulu atau di                  

 desa-desa kan ngikuti. ‘Wah, ini kesenian raja!’ Nah, itu!”

ASAL NAMA TINGKILAN

Terdapat dua pandangan yang berbeda mengenai darimana arti kata tingkilan berasal:

Pertama, dari kata tingkil  yang  berarti sindir dalam bahasa kutai. Penambahan akhiran-an menjadikannya bermakna sindiran. Tingkilan dalam arti ini merupakan sindiran berbentuk pantun, berisi kritik dan saran, serta disampaikan dengab nyanyian yang diiringi alat musik gambus dan ketipung. Informan NP mempercayai pandangan ini:

“Yang saya tahu, musik tingkilan ini memang dari orang-orang bahari. Tingkil itu menyindir     sesorang.”

Kedua, dari bunyi gambus yang dpetik, sebagaimana yang diungkapkan oleh informan ANB.

“Asal nama tingkilan kalau saya analisa sebenarnya hasil dari bunyi ‘tung’. ‘Ting’ itu adalah suara dentingan dawai dari gtambus yang diberi akhiran-an. [tingkilan] itu adalah bentuk kata kerja dari kerja memetik gambus. Si pemain itu sendiri disebut peningkil.

Meski berbeda, kedua pandangan tersebut sama-sama menyampaikan bagaimana tingkilan dipersepsi hari ini. Keduanya mengartikan tingkilan sebagai satubentuk penyampian sindiran kepada orang lain lewat pantun atau lirik yang diiringi lagu.

KESENIAN KERAJAAN DAN CAMPUR

TANGAN PEMERINTAH BELANDA

 Kerajaan Kutai tidaklah berdaulat penuh atas wilayah kekuasaannya. Kutai merupakan daerah jajahan Belanda. Sistem politik dan ekonominya berada dibawah pengawasan ketat pemerintahan Belanda.

Pada masa Kerajaan Kutai dan kolonial Belanda, kepatuhan menjadi norma yang utama. Masyarakat dituntut hati-hati dalam berkata. Menyampaikan segala sesuatu harus dengan sopan santun serta tersaring. Mekanisme sensorisasi atas nama “moral” dan “kehormatan” berlangsung dalam taraf yang amat masif. Tentu saja, orang-orang Kutai tidak mau dianggap atau dituduh sebagai pelaku kriminal, asusila, tidak sopan, dan lain sebagainya.

Dalam konteks ini, tingkilan menjadi suatu mekanisme sindiran yang mewadahi mereka yang ingin menyampaikan apa yang menggangu dirinya tanpa harus blak-blakan ditengah rezim yang sensitif. Tingkilan memberikan kebebasan ditengah keterbatasan. Ada etika dan kepatuhan, ada campur tangan kerajaan dan kesenian, namun bukan berarti tingkilan tidak punya otonomi untuk berekspresi.

Pihak kolonial Belanda sendiri, yang mengkooptasi otoritas kerajaan untuk menjajah masyarakat yang dianggapnya bagian kekuasaan tradisional dan tak menyerempet hal-hal yang berbau ekonomi politik. Ketika Belanda melarang penggunaan senar suasa dalam tingkilan, tujuannya tak lain mencegah konflik dan kekacauan.

          Penentuan Tema Pantun dan Bahasa

       Ketika menjadi kesenian kerajaan maka tema pantun tingkilan pun harus sesuai dengan permintaan raja. Para peningkil harus tunduk di bawah perintah kerajaan. Bila raja memanggil peningkil untuk menghibur dan menampilkan musik tingkilan, maka peningkil harus benar-benar siap dengan pantun yang diminta saat itu.

Sebagai kesenian Kerajaan Kutai, tingkilan kerap didendangkan untuk menyambut tamu-tamu kerajaan luar. Dengan sendirinya, pantun-pantun tingkilan lebih banyak diciptakan dalam bahasa Melayu mebnjadi bahasa yang selalu digunakan oleh para peningkil. Pada masa Kerajaan Kutai, menjadi suatu kebanggaan bagi seseorang bila ia bisa memainkan musik tingkilan yang diakui sebagai kesenian kerajaan.

 Pelarangan Tali Senar

 Dahulu senar gambus terbuat dari perak, tembaga, dan suasa (campuran tembaga, emas, dan perak) sehingga menghasilkan bunyi dentingan yang amat bening sampai-sampai berbunyi “ting”. Namun, bunyi senar yang jernih tersebut dianggap mengandungt kesaktian dan berbahaya ketika diberi mantra untuk tujuan tertentu. Ada dua cara untuk memberikan kekuasaan magis pada gambus. Pertama, dengan memasang senar-senar suasa bermantra. Kedua, dengan memasang satu senar suasa bermantra ke bagian dalam badan gambus atau dibalik senar-senar gambus. Melihat bahaya kesaktian senar suasa tersebut dan untuk meredam konflik, maka Belanda memperlakukan undang-undang pelarangan senar suasa yang bermantra. Berikut disampaikan oleh inforan ANB:

“Kalo senar perak bebas-bebas aja [dimainkan]. Cuma, bila senarnya itu berobah kesenar suasa, memainkan itu membahayakan urang lain. Kalo urank laki [laki-laki] yang main, urank bini [perempuan] kesian [kasihan]. Yang sebrang sungai nyebrang. Yang dari loteng kadang-kadang bisa terjun. Yang para’ [dekat] rumah bawa balutan [baju-baju]. [mereka akan datang] minta kawin! Pada jaman Belanda tu senar-senar dilarang. [Untuk]nya [gambus] ada senar-senar khusus.”

KEBUDAYAAN MENYINDIR HINGGA SESUAI PESANAN

 Sindiran bagi orang-orang Kutai bisa berbentuk nasehat, kriti, dan teguran yang menohok. Jadi, tingkilan merupakan media untuk menegur, menyapa atau sebagai media interaksi melalui lagu. Peningkil mempunyai kemampuan untuk menciptakan pantun secara spontan yang berisi sindiran. Pantun-pantunnya tercita begitu saja saat peningkil melantumkan lagu dan bermain gambus. Adapun isi sindiran pantun tersebut biasanya tentang cinta, keadilan, harapan, atau sesuai permintaan pemesan/pengundang/yangpunya hajatan. Siapapun yang ingin menyindir bisa memesan peningkil untuk menyampaikan maksudnya. Tingkilan digemari baik laki-laki, perempuan, tua, muda, dan mekanisme sindiran menjadi hal yang biasa.

Sahut-sahutan pantun dalam tingkilan dilakukan dengan berpasang-pasangan. Apabila peningkil tama adalah laki-laki, maka peningkil kedua sebagai lawannya adalah perempuan. Begitu pula sebaliknya. Tidak ada jangka waktu dalam balas-balasan pantun tersebut. Ketika salah satu peningkil tidak dapat menjawab atau kehabisan akal dalam menyanyikan pantun secara spontan maka kalahlah dia. Peningkil yang kalah akan disoraki “kalah” oleh para penonton, sementara yang menang akan mendapat tepuk tangan dan pujian. Berikut ungkapan informan ANB:

“Si peningkil menjual pantun, ada yang membala. Biar satu malam dilawan, dilawam! Karena interaktif dengan masyarakat, kalau kalah masyarakat teriak “Woi, kalah!!!’”

Tak jarang berbalas-balasan pantun menimbulkan perasaan suka dan cinta antar peningkil. Menurut orang-orang Kutai, lebih-lebih lagi jika pelaku betingkila menggunakan senar suasa yang telah diberi mantra. Berikut diungkapkan informan PB:

“Pantunnya tu yoh, apabila urang besahutan pantun, artinya menyindir kita. Kita mbalasi, becintaan! Bisa!”

Dan diperkuat informan NP:

         “…orang-orang tingkilan itu jarang yang bujangan. Yang laki-laki sudah ada istrinya. Maka

[kalau] yang tingkilan itu saling mencintai sampai tukar cincin, nah, siapa yang tidak cemburu.”

Jadi sindiran bagi masyarakat kutai merupakan mekanisme budaya mereka yang hadir dalam musik tingkilan.

SASARAN PEMESAN

Pada periode awal masuknya musik tingkilan kekutai, keberadaan peningkil tidak terlalu dipedulikan oleh masyarakat sekitar. Tingkilan lantas berkembang dan memperoleh wadah-wadah untuk menyampaikan keseniannya. Para peningkil diundang untuk tampil pada acara-acara ramai seperti hajatan, pernikahan, sunatan, dan masih banyak lagi. Tetapi, dilihat dari jenis-jenis acara yang diisi oleh kesenian ini, bisa dikatakan bahwa sasaran tingkilan adalah orang kaya atau berkuasa.

Walaupun bagi masyarakat Kutai pantun identik dengan sindiran, namun sindiran tersebut tidak dapat dilontarkan dengan sembarangan. Pantun harus disesuaikan pula dengan kondisi dan siapa yang mengundang. Para peningkil tetap memegang aturan dan berhati-hati dalam menyampaikan pantunnya yang disampaikan dengan spontan. Seperti yang diungkapkan NSW yang pernah bermusik tingkilan pada saat Kerajaan Kutai masih ada:

“… waktu bersama almarhum dato’ Aji (Sultan Muhammad Parikesit) … [saya] diajarkan beliau, ‘Eh, NSW, kamu seharusnya begini kata-katanya, begini kata-katanya …’”

 KERAGAMAN MUSIK TINGKILAN

Adanya berbagai macam kerajaan, pola penyebaran penduduk yang beragam, dan bermacam suku menyebabkan aneka ragam kebudayaan berkembang di Kutai. Dengan sendirinya, musik tingkilan pun berkembang menjadi begitu majemuk. Bila dipilih berdasarkan pengaruh kebudayaan, lingkungan fisik, dan lingkungan sosialx, musik tingkilan terbagi atas tiga jenis, yaitu:

 MUSIK TINGKILAN HULU MAHAKAM

Musik tingkilan ini berkembang di daerah pedalaman serta menggunakan gambus sebagai instrumen melodi dan ketipung sebagai tabuhan yang bersahut-sahutan (bertingkah). Biasanya pemain gambus (peningkil) bernyanyi dengan pantun spontan berpola yang bersifat sindiran dan bersahut-sahutan dengan peningkil lain dalam durasi yang tidak terbatas waktu (tetapi sejauh mana peningkil mampu membalas pantun lawannya).


MUSIK TINGKILAN TEPIAN PANDAN/

TENGAH/TENGGARONG

 Musik tingkilan ini telah mengalami perkembangan dalam pola penyajiannya. Ada penambahanin instrumen musik seperti gitar, cuk, cak, cello, contrabas, dan ketipung tidak lagi digunakan sebagai tabuhan ritmik. Selintas, pola musik yang disajikan terdengar hampir sama dengan pola sajian musik keroncong. Lirik nyanyiannya tidak terikat lagi pada pola pantun yang spontan dan lagunya pun bebas.

 MUSIK TINGKILAN PESISIR/PANTAI

 Sebenarnya pola tingkilan dari daerah ini berada diantara pola Hulu Mahakam dan pola Tengah. Lirik masih menggunakan pantun berpola seperti Hulu Mahakam, walaupun tidak bersifat spontan, lebih terstruktur seperti dari Tengah. Iringannya sendiri sudah mengikuti perkembangan zaman seperti keyboard, dan dipengaruhi oleh kebudayaan Bugis yang berada di daerah pantai.

           Berikut penuturan informan ANB mengenai tiga jenis musik tingkilan:

 “… [musik tingkilan] terbagi tiga: Kutai Pantai, Kutai Tengah, dan Kutai Hulu. Kalau Kutai Pantai terbawa dialek Bugis. Tengah karena bersentuhan dengan kesultanan  menjadi kekota-kotaan. Kemudian yang Hulu termasuk pedalaman.”


PEMBAGIAN WILAYAH

ADMINISTRATIF DAN TINGKILAN

          Dalam sejarahnya, setelah Republik Indonesia berdiri, Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja Kutai pada tahun 1947 bergabung dalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah kesultanan lainnya, seperti Bulungan, Sambiulung, Gunung Tabur, dan Pasir. Pada tanggal 27 Desember 1949, Kutai masuk dalam Republik Indonesia Serikat.

 Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai melalui UU Darurat No. 3 Tahun 1953. Kutai menjadi daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten. Kemudian, berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959, status Daerah Istimewa Kutai dihapus, dan pada tanggal 21 Januari 1960 Sultan Aji Mohammad Parikesit menyerahkan kekuasaan pemerintahan kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura kepada pemerintah RI (Rachim, 1996: 7). Kutai kemudian dibagi menjadi tiga Daerah Tingkat II, yakni:

  1. Kotamadya Balikpapan dengan ibokota Balikpapan
  2. Kotamadya Samarinda dengan Ibukota Samarinda
  3. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong.

Kemudian, pada tahun 1999 wilayah Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi empat daerah otonom berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999, yakni:

  1. Kabupaten Kutai dengan Ibokota Tenggarong
  2. Kabupaten Kutai Barat dengan Ibokota Sendawar
  3. Kabupaten Kutai Timur dengan Ibokota Sangatta
  4. Kabupaten Bontang dengan Ibokota Bontang

Pemekaran yang mempersempit wilayah kekuasaan pemerintahan Kutai ini tidak lantas mempersempit ikatan kebudayaan Kutai ataupun mempengaruhi pembagian jenis tingkilan berdasarkan lokasi geografis. Tingkilan dan kebudayaan Kutai tersebut akan kembali memperlihatkan keutuhannya pada saat upacara adat Erau diadakan.

TINGKILAN “TRADISIONAL”

DAN “MODERN”:

 Dalam perkembangannya belakangan, disadari atau tidak, para pelaku musik tingkilan, yakni pola tradisional dan pola modern. Penulis pun menganalisis bahwa memang pantaslah jika musik tingkilan yang terbagi menjadi tiga aliran yang berbeda ini dapat dipilih lagi dibawah kategori modern dan tradisional. Pertama, ini ditinjau dari instrumen musik yang digunakan; kedua, ditinjau dari pengakuan para pelaku musik itu sendiri.

Pola sajian menghadirkan pemain gambus (peningkil), pemain ketipung, dan menyajikan pantun spontan dinamakan pola “tradisional”. Sedangkan pola sajian yang terdiri dari pemain gambus, penyanyi, cello, cak, cuk, gitar, dan keyboard disertai bentuk lagu bebas disebut pola “modern”. Pola “modern” dikembangkan oleh para pelaku musik tingkilan yang merasa keseniannya mulai kurang diminati oleh generasi muda dan harus mengikuti tuntutan zaman. Berikut adalah perbedaan pola sajian tingkilan tradisional dan modern.

 PERBEDAAN TINGKILAN “TRADISIONAL” DAN “MODERN”

PERBEDAAN TINGKILAN “TRADISIONAL” DAN “MODERN”

Unsur

“Tradisional”

“Modern”

  1. Instrumen
Gambus dan dua

ketipung

Gambus, ukulele, Cak, gitar, cello, Bass, (terkadang biola dan keyboard)
  1. Bentuk lagu
Pola struktur dan mengulang/ A-A-A dan seharusnya Hampir menyerupai pola musik keroncong, bervariasi, pola A-B, A-A-A-B-C
c. bentuk lirik – bahasa spontan

– Bahasa Indonesia

– Lirik terstruktur

– Bahasa Kutai

  1. Durasi tampil
Tak Terbatas Terbatas

Pola tradisional menggunakan bahasa Indonesia karen zaman Kerajaan Kutai, penguasa meminta mereka untuk menyambut tamu-tamu kerajaan dengan bahasa yang bisa dimengerti secara luas, bahasa Indonesia. Hal ini diperkuat oleh pandangan Jumri Obeng (1980: 7) bahwa pantun-pantun tingkilan pada umumnya menggunakan bahasa Indonesia dan diselingi dengan bahasa daerah. Selain itu, bahasa Kutai sendiri banyak menyerap elemen bahasa Melayu yang merupakan akar bahasa indonesia. Berikut contoh pantun tingkilan:

 

Kapal Berlayar

Kapal berlayar tengah lautan

Naik bendera setenga tiang

Lagilah jaoh dah kelihatan

Siapa gerangan itu yang datang

 

Putus Larangan

 

Anak tikus mati berenang

                        Mati berenang luan perahu’

                        Tidak putus hati mengenang

                        Orang digenang mandi’lah tahu2

 

Berbeda halnya dengan para pelaku musik tingkilan pola “modern”. Mereka berupaya memasukkan instrumen-instrumen musik lain, mengubah nyanyian dari pantun menjadi lirik yang bebas.

Mereka berusaha menggunakan bahasa Kutai, meski mereka harus mengakui bahwa bahasa tersebut menyerap banyak kata bahasa Melayu yang menjadi akar bahasa Indonesia.

PERUBAHAN POLA MUSIK TINGKILAN

Musik tingkilan “modern” ini banyak mengalami perubahan jika dianalisis dan dibandingkan dengan tingkilan “tradisional”. Sejumlah pemusik tingkilan menganggap perubahan pola ini sebagai upaya mengikuti perkembangan jaman dan berkreasi dengan komposisi musik tingkilan; gambus tingkilan, menurut mereka, bisa digabungkan dengn jenis musik apa saja. Informan ANB menuturkan:

“kelemahan [tingkilan “tradisional”] apa? Chord3. Kalo yang tradisional, bolak-balik itu-itu a. Jadi banyak sekali bedanya [dengan tingkilan “modern”]. Apalagi … [tingkilan modern] tambah alat-alat yang lai sehingga melodi yang dimainkan dengan irama musik yang ada menyatu. Enak didengar.” (wawancara tgl 8/10/2004)

Bentuk Pertunjukkan

 Perubahan pun terjadi pada bentuk pertunjukan. Biasanya tingkilan “tradisional” bersifat dialog. Peningkil berinteraksi dengan peningkil lawan sedangkan pemesan atau penonton berada “diluar” interaksi tersebut. Namun peran penonton sangat diperlukan untuk menyorakkan sinyal “kemenangan” dan “kekalahan” para peningkil dalam berpantun. Penonton melontarkan tepukan tangan dan ucapan “hebat” untuk peningkil yang mampu membalas pantun lawan, sementara sorakan kalah akan diterima oleh peningkil yang tidak mampu membalas/menjawab pantun lawannya.

PERTUNJUKAN TINGKILAN “TRADISIONAL”

ketipung

peningkil

peningkil

penonton

 Sumber : hasil analisa data

 

Tingkilan “modern”tidak memuat balas-balasan pantun lagi. Selain ada penambahan instrumen musik, ketipung tidak lagi digunakan sebagai tabuhan. Tabuhan diganti dengan ritme musik keroncong yang dimainkan oleh instrumen cak, cuk, contrabass, dan instrumen lainnya. Peningkil “tradisional” biasanya bermain gambus merangkap bernyanyi. Pada tingkilan “modern” melantumkan lagu bisa dilakukan terpisah dengan memainkan gambus. Tidak ada lagi dialog antar peningkil, yang ada hanya pertunjukkan musik untuk penonton atau pemesan.

PENAMBAHAN INSTRUMEN MUSIK

           Gambus merupakan instrumen vital didalam pertunjukkan musik tingkilan. Selain itu, pola pertunjukkan tingkilan “tradisional” menggunakan alat tabuh (betingkahan) yang dinamakan ketipung. Ada dua gambus yang digunakan dalam tingkilan, yaitu yang bersenar tujuh dan bersenar sembilan. Senar gambus terbuat dari sejenis tali nilon. Untuk menentukan tangga nadanya, pertama-tama dibunyikan senar kedua dari bawah sebagai tonikanya. Senar-senar yang lain disesuaikan dengan bunyi senar tersebut. Apabila nada tonika terlalu tinggi bagi penyanyi, maka senar itu dikendorkan. Begitu pula sebaliknya, apabila nada tonika terlalu rendah bagi penyanyi maka senar dikencangkan.

Sebagai instrumen melodi utama, gambus mengantarkan penyanyi untuk menangkap melodi pokok sebuah lagu. Melodi pokok biasanya dimainkan dibagian introduksi4  sehingga permainan gambus diawal lagu memiliki peranan vital dalam menyerap penyanyi kedalam lagu tersebut.

Instrumen tabuhan pengiring tingkilan adalah ketipung, semacam kendang kecil yang penampangny dilapisi kulit. Dalam sebuah pentas tingkilan, biasanya disediakan 2-3 ketipung yang berbeda untuk memberikan nuansa tabuhan yang beragam. Pola ritme tabuhan ketipung ini bersifat konstan dalam mengiringi para peningkil berbalas pantun.

Di dalam perkembangannya menjadi music tingkilan “modern”, sejumlah alat music ditambahkan. Antara lain, ukulele (cuk), banjo (cak), gitar, cello, contrabass, dan terkadang biola. Sementara, ketipung sebagai tabuhan tidak digunakan lagi karena sudah digantikan oleh pola ritme yang hamper menyerupai pola ritme keroncong.

 

POLA RITME KERONCONG

Pola music tingkilan “tradisional” biasanya hanya berbentuk lagu satu bagian saja yang terus diulang-ulang. Lagu tingkilan tradisional hanya terdiri atas bagian kalimat pertanyaan (anticident) dan bagian kalimat jawaban (consequent). Tetapi lagu-lagu tingkilan pola “tradisional” ini berbeda dengan lagu-lagu satu bagian lainnya karena memiliki kalimat jawaban yang selalu diulang dua kali.

Setelah mengalami perubahan ke bentuk “modern”, music tingkilan tidak lagi terbatas sebagai lagu satu bagian saja seperti dalam pola sajian “tradisional”. Tingkilan “modern” bias mengambil dua bagian: A B; dan tiga bagian: A B A; A B A’; A B C. Berikut bentuk lagu tiga bagian )A B A’)

 TEKNIK VOKAL

 Pada pola tingkilan “tradisional”, timbre vocal tipis (cempreng), melengking, serta jarang menggunakan vibrasi. Tingkilan “tradisional” lebih banyak melantunkan ornament nada, terutama di tengah-tengah kalimat melodi pokok, sebagai improvisasi penyanyi untuk memperkaya lagunya yang hanya terdiri dari satu bagian yang diulang-ulang.

Penyanyi (sekaligus peningkil) dituntut untuk menciptakan pantun secara spontan, bersifat sindiran, nasehat, pujian dan masih banyak lagi. Bentuk pantunnya baku, berpola A-A-A-A-…, seperti pantuk Kutai Lama, dibawah ini:

Konon kisah di Kutai Lama di Kutai Lama

Muncullah naga muncullah naga tanjung nirwana

Muncullah naga tanjung nirwana

Naga menjunjung lembusuana lembusuana

Dengan membawa dengan membawa gong dewata

Dengan membawa gong dewata.

Gong berisi bayi wanita bayi wanita

Telur digenggam telur digenggam tangan kanannya

Telur digenggam tangan kanannya

 Petinggi dusun Babu Jaruma Babu Jaruma

Datang mengambil datang mengambil dan memelihara

Datang mengambil dan memelihara

 Bentuk pantunnya dapat pula berpola A-B-B-A-B-B-…., seperti yang dapat dilihat pada contoh pantun Selamat Datang:

Dengan hormatlah aku ucapkan

Kepada kawan kepada kawan yang baru datang

Kepada kawan kepada kawan yang baru datang

 Inilah lagu aku nyanyikan

Sebagai tanda sebagai tandalah perkenalan

Sebagai tanda sebagai tandalah perkenalan

 Penting gambuslah tali Sembilan

Putuslah satu putuslah satu tinggal delapan

Putuslah satu putuslah satu tinggal delapan

 Kumenyanyi lagu tingkilan

Kalau tersalah kalau tersalah mohon maafkan

Kalau tersalah kalau tersalah mohon maafkan

  Sedangkan pada pola tingkilan modern, timbre vocal yang diproduksi tidak tipis (cempreng) dan melengking, lebih cenderung tebal, serta menggunakan cengkok dan gregal. Menurut Harmunah (1987: 28-29), cengkok adalah segala bentuk nada hiasan yang memperkuat nuansa kalimat lagu. Cengkok mengisi, memperindah, dan menghidupkan kalimat lagu.

 LIRIK LAGU BERBAHASA KUTAI

Kendati bahasa Kutai masih serumpun dengan bahasa Melayu dan memiliki kesamaan dengan bahasa Indonesia, banyak ditemukan pula lagu-lagu tingkilan yang berusaha membangun liriknya seutuhnya dengan perbendaharaan bahasa local Kutai. Tak jarang para pelaku music tingkilan “modern” menciptakan lirik lagu yang amat simbolik. Berikut cuplikan lagu tingkilan berbahasa Kutai yang berjudul Embangun:

Ayo etam bangkit jangan lagi tega’nya dulu

Kekayaan alam habis digasa’I urang etam ndi’ kebagian

Etam tingkatkan pengetahuan segala bidang

Supaya etam mandi’nya lagi jenaka’I urang

Bila ha’ lagi etam urusi

Jangan ha’ ngondo’maha kerjaan

Ndi’ papa polehan

 (Ayo kita bangkit jangan lagi seperti dulu

Kekayaan alam habis diambil orang kita tidak kebagian

Kita tingkatkan pengetahuan segala bidang

Supaya kita tidak lagi dibohongi orang

Kapan lagi kita mengelolanya

Jangan hanya diam saja kerjanya

Tidak menghasilkan apa-apa)

  Para peningkil sangat berhati-hati dalam menciptakan lagu-lagu tingkilan berbahasa Kutai. Tak heran hasilnya patut diacungi jempol karena liriknya nyaris utuh dengan bahasa Kutai bila dibandingkan dengan lagu-lagu tingkilan “tradisional” yang dipenuhi bahasa Indonesia. Tak jarang satu lagu diciptakan dalam proses dua tahun (pengalaman salah seorang informan) dan harus ‘menguras’ otak untuk menggali-gali symbol dalam bahasa Kutai yang dapat menyampaikan hasrat dari kedalaman sang peningkil. Berikut ANB menuturkan pengalamannya:

“kalimat CINTA dalam bahasa Kutai itu sangat … lucu kedengarannya … Nah, oleh karena itu, saya membuat lagu ini (berdehem) dalam bentuk sampiran. [Cinta] disampirkan kepada bunga. Jadi … seolah bunga ini sebagai pengganti kekasih. Jadi, kata CINTA tidak vulgar rasanya … dilembutkan. (wawancara tgl 9/10/2004)

 SINDIRAN, IDENTITAS YANG BERKEMBANG

Disadari atau tidak, meski zaman sudah berubah, para pelaku music tingkilan tetap berjalan pada selintas garis lurus. Instrumen gambus tetap menjadi jantung dalam betingkilan. Sindiran, yang menjadi fondasi dasar tingkilan pada awal kemunculannya, tetap lestari, walaupun bahasa di dalam lirik lagu tingkilan “modern” telah berganti. Makna sindiran milik tingkilan “tradisional” maupun tingkilan “modern” sudah berbeda. Selain bahasa, yang berbeda pada kedua bentuk tingkilan ini adalah pola pantunnya. Tingkilan “tradisional” menggunakan pola terstruktur dan spontan, sedangkan tingkilan “modern” menggunakan pola lirik seperti lagu-lagu music Barat dan tak terika pada bentuk pantun. Artinya, tingkilan “modern” lebih mengikuti perkembangan zaman dan liriknya mengandung ajakan, nasehat, kehidupan sehari-hari dan keindahan.

 “KAMI NI MUSIK PINGGIRAN”

Penyebaran penduduk merupakan salah satu factor yang menyebabkan kebudayaan Kutai bersentuhan dengan kebudayaan luar dan memungkinkan terjadinya akulturasi. Perkembangan kebudayaan di luar ikut mempengaruhi pergeseran kesenian di Kabupaten Kutai, misal, masuknya berbagai aliran music ke lingkungan masyarakat Kutai. Hal ini membuat music tingkilan kian tidak diminati. Para pelau music tingkilan, baik dari pola “tradisional” maupun pola “modern”, merasakan dan menganggap music mereka sebagai “music pinggiran”

Di mata para pelaku music tingkilan, music mereka merupakan music yang terbelakang, tradisional, ditinggalkan, dipinggirkan dari jenis-jenis music yang berkembang saat ini. Keadaan ini melahirkan sebuah ungkapan yang berupaya menghibur dan membesarkan hati para peningkil, “mun ndi’ ada yang pinggiran, ndi’ akan ada yang tengah” (kalau tidak ada yang pinggiran, tidak aka nada yang tengah). Selain itu, para pelaku music tingkilan ini rata-rata tidak berlatar belakang tinggi. Mereka bermata pencaharian mulai dari penjahit, buruh bangunan, pembantu rumah tangga, tukang pijat, sampai pegawai honorer Pemerintahan Daerah Kutai. Namun, ada satu dua orang peningkil yang mempunyai posisi yang mapan di Pemerintahan Daerah setempat. Berikut pandangan AF tentang tingkilan:

“… zaman sekarang ini kan zaman kemajuan. Lalu urang [orang] melihat mainan yang kecil-kecilan sepeeti kami ini ndik [tidak] bias nampil … mau pentas ke mana? Ha, ke acara apa? Lalu kami nganggap ini music pinggiran! Karena jarang dipakai urang, gitu.” (wawancara,8/10/2004)

 Dilanjutkan informan PB yang kecewa melihat music mereka tidak diperhatikan lembaga kesenian setempat:

“… kami kan ndi’ dibena [tidak dibina], ndi’ dibenakan urang [tidak diperdulikan orang]. Jadi kami maen sendiri, tersendiri. Kami artinya tu ndi’ makai LPKK [Lembaga kesenian setempat]. Ndi’ ada yang bela kami. Kami sendiri berdikari. Itu namanya kami di pinggir, kami ndi’ ada dibenakan urang. Seolah-olah kami ni acuh tak acuh lah! Masa bodoh kau! Mitu (begitu)…”

(wawancara tgl 9/10/2004)

 Dalam pikiran para pelaku music tingkilan, kesenian mereka telah tersingkir dari garis jenis-jenis music yang berkembang dan digemari oleh masyarakat Kutai, dari music “tengah” yang mendominasi. Selain itu, pernyataan-pernyataan mereka menunjukkan lembaga kesenian setempat yang tidak tanggap terhadap keberadaan para pelaku music tingkilan yang kian terkucil.

 TERIMA TANTANGAN ZAMAN

Berjalannya waktu dan bergantinya generasi para pelaku music tingkilan membawa warna dan wajah baru dalam pola sajian kesenian tersebut. Selain itu, seiring perkembangan zaman, para pelaku music tingkilan dihadapkan kepada jenis-jenis music baru yang berkembang dan menjadi dominan di sekitar mereka. Keadaan ini membuat mereka tergugah untuk berkreasi dan berkarya dengan menggabungkanm pola sajian tingkilan yang telah ada. Mereka juga melihat instrument gambus memiliki kemampuan beradaptasi dengan jenis music apa saja. Mereka berani menggabungkan tingkilan dengan jenis music yang popular seperti music pop, keroncong, dan dangdut. Informan ANB, salah seorang peningkil menganggap bahwa music ini bias “beradaptasi” dengan music-musik lain yang berkembang

“Untuk menggabungkan music tingkilan dengan music lain sebenarnya tidak ada masalah. Tergantung pemain, iramanya, kemudian bentuk-bentuk music. Karena saya jarang menemukan music tingkilan yang [bertempo] 4/4, mereka [tingkilan] bias masuk.

(wawancara tgl 8/10/2004)

 Sementera, disisi lain tingkilan “tradisional” tetap bertahan dengan kehebatan berpantun spontanitas sebagai legitimasi adat Kutai.

Sumber:

DR. Aji Qamara Hakim (Penulis)

5 thoughts on “TINGKILAN”

  1. Musik tingkilan harus tetap di kembangkan su,saya ne urangx mseh muda tpi gawal ndengar musik tingkilan daerah etam kutai ne,saya ada usul coba stiap 1 bulan sekali adakan acara tingkilan etam di kutai ne biar bisa maju dan berkembang,etam jangan mau kalah dengan daerah yg lain selalu mengembangkan musik daerah dan tradisionalx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Informasi Kota Tenggarong Kutai Kartanegara dan Seputar Pelayanan di Jemaat GPIB EFATA Tenggarong

%d bloggers like this: