SENI

B. SENI dan BUDAYA
a. Seni dan Budaya Suku Melayu
1. Upacara Adat Istiadat
• Festival ERAU
Erau adalah suatu ritual dalam budaya keratin Kutai Kartanegara yang telah menjadi perekat persatuan masyarakat. Setiap kali ritual Erau diselenggarakan, berbondong-bondong masyarakat berdatangan dari dalam maupun luar daerah untuk menyaksikan dan berpartisipasi dalam acara ini. Awalnya festival Erau diselenggarakan oleh Keraton Kutai Kartanegara dalam rangka penobatan Raja, peringatan Penobatan sang Raja maupun penobatan Putra Mahkota Kerajaan pada Pesta Adatv Erau, kerabat keratin mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi pada kerajaan untuk datang ke ibukota untuk turut merayakan Erau bersama-sama. Kemudian sejak tahun 1970, upacara Erau tidak lagi dilaksanakan untuk memperingati naik tahtanya Sultan, melainkan dalam rangka perayaan Ulang Tahun Kota Tenggarong yang berdiri pada tanggal 29 September 1782.

Atas petunjuk Sultan, maka Erau dapat dilaksanaka oleh Pemerintah Kabupaten Kutai dengan kewajiban untuk menggerakkan beberapa upacara adat tertentu yakni mengacu Benua, Mendirikan Ayu, Menyisihkan Lembu Suana dan Tambak Karang, Beluluh, Bekanjar, Beganjur, Seluang Mudik, Belian, Bekenjong, Dewa Memanah, Besaong Manok, Menjala, Bepelas, Tepong Tawar, Merebahkan Ayu, Beruray, Mengulur Naga dan Belimbur. Proses Erau dimulai dengan Menjamu Benua yakni upacara untuk memberi makan pada orang-orang halus di bagian hulu, tengah, dan hilir Benua (kota). Kemudian mendirikan Ayu, dengan didirikannya Tiang Ayu maka Pesta Adat Erau pun secara resmi dibuka.

Salah satu proses adat yang unik dalam Festival Erau ini adalah Belimbur. Pada acara ini Sultan Mandi Rangga Titi dengan menggunakan air yang diambil dari Kutai Lama. Pada waktu yang sama pula, seluruh masyarakat boleh saling menyiram/melimbur air bersih. Tidak ada yang boleh marah apabila terkena siraman air dari orang lain. Makna dari acara Belimbur ini adalah untuk membersihkan jiwa seluruh penghuni Keraton dan rakyat di Kerajaan Kutai Kartanegara. Upacara terkahir dalam prosesi Erau adalah “Merebahkan Ayu” yang dilakukan oleh para Pangeran atau kerabat yang dituakan. Rebahnya Ayu menandakan berakhirnya perayaan Erau. Sesudahnya dilakukan pembacaan doa keselamatan dan dilanjutkan dengan acara berlemparan atau betebak beras disusul dengan pukulan gong golong, dengan pukulan sekehendak hati pemukulnya. Selanjutnya seluruh kerabat dan masyarakat luas saling bersalaman memohon maaf atas kehilafan baik dalam pergaulan dan bertutur dalam pergaulan sehari-hari. Dengan demikian usailah perayaan Erau, ritual yang dalam berabad lamanya telah mempersatukan perbedaan masyarakat Kutai Kartanegara.

• Upacara Perkawinan Adat Kutai
Kerajaan Kutai sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia memiliki beberapa peninggalan udaya yang masih tetap dijaga kelestariannya. Salah satu bentuk adat yang tetap dilestarikan hingga kini adalah Upacara Perkawinan Adat Kutai. Rangkaian upacara adat yang dilaksanakan adalah :

Bepacar
Pacar adalah nama daun yang digunakan untuk mewarnai jari pengantin. Maknanya adalah sebagai syi’ar kepada khalayak ramai bahwa kedua mempelai adalah pasangan pengantin baru dan sebagai kelengkapan hiasan untuk pengantin.

Besiram (mandi-mandi) dan Bealis,
dilaksanakan sebelum upacara Akad Nikah dan Naik Pengantin. Mempelai dimandikan dngan air bunga dan mayang kelapa muda. Setelah dimandikan, mempelai berpakaian menurut adat tradisional dan didudukan diatas tilam kesturi dengan segala kelengkapan untuk upacara bealis. Makna dari upacara ini adalah untuk mendapatkan berkah dari kedua orang tua dan memperoleh “lemak manis” kehidupan keluarga dikemudian hari.

Naik Pengantin,
Ini merupakan acara puncak dari adat Perkawinan Kutai, terdiri dari mengarak pengantin pria yang diiringin oleh barisan Rebana/Hadrah menuju ketempat mempelai wanita. Ketika sampai dikediaman wanita, disambut dengan Shalawat Nabi dengan menghamburkan beras kuning sebagai rasa syukur menyambut kedatangan mempelai pria. Pelaminan atau yang disebut “Geta” penuh dengan ornament dan hiasan mempunyai makna sebagai lambang kesejahteraan hidup berumah tangga. Di atas genta kedua mempelai duduk bersila berhadapan, saling menukar kembang genggam, saling menyuapi sirih dan kemudian di kurung dalam kain dan di jahit, besaong lilin dan beradu berdiri. Setelah kedua pengantin bersanding dilaksanakan perhitungan mahar oleh beberapa sesepuh kedua mempelai. Dengan demikian mempelai pria dinyatakan memenuhi persyaratan pernikahan dan berhak secara adat untuk mempersunting mempelai wanita idamannya. Acara kemudian dimeriahkan dengan pembacaan tarsul yakni syair saling memuji diantara kedua mempelai.

Naik Mentuha,
Kedua mempelai diantar kerumah orang tua mempelai pria, dengan beberapa upacara kecil seperti: mempelai wanita mencuci kaki mempelai pria di atas cuek batu tebal dan memotong daun nipah. Makna upacara ini sebagai rasa patuh kepada orang tua serta memohon doa restu sebagai tanda bahwa kedua mempelai sudah siap melepaskan diri untuk mengarungi bahtera kehidupan.

2. Tari-tarian
• Tari Jepen Eroh
Adalah Kesenian Melayu Rakyat Kutai Kartanegara, yang muncul pada masa peradaban Islam di Tanah Kutai. Tarian ini biasanya di tarikan oleh muda-mudi dengan diiringi alat musik “Gambus” dan “Ketipung” atau semacam “Marwas” serta berbagai alat musik perkusi lainnya. Tari Jepen Eroh adalah tari garapan yang tidak meninggalkan gerak ragam aslinya, yang disebut ragam penghormatan, ragam gelombang, ragam samba setengah, ragam samba penuh, ragam gengsot, ragam anak dan lain-lain. Eroh dalam bahasa Kutai berarti ramai, riuh dan gembira. Oleh sebab itu, penataan Tari Jepen Eroh ini penuh dengan gerakan-gerakan yang dinamis dan penuh unsure kebahagiaan.

• Tari Ganjar Ganjur
Adalah Tarian asli Kutai Kartanegara yang biasanya ditarikan hanya pada upacara-upacara besar yang dilaksanakan oleh Keraton, seperti: Upacara penyambutan Tamu-tamu Agung upacara Adat Erau, Upacara Adat Penabalan Sultan Kutai Kartanegara, dll. Tarian ini ditarikan oleh penari pria yang disebut “Beganjar”, dan penari wanita yang disebut “Beganjur”. Kostum yang digunakan oleh penari pria disebut “Miskat” untuk bagian atas (baju) dan “Dodot” untuk bagian bawah (celama). Sedangkan untuk penari wanita menggunakan pakaian “Ta’wo” untuk bagian atas (baju) dan “Tapik” untuk bagian bawah (celana). Dalam pelaksanaan tarian ini masing-masing penari membawa aksesoris tari yang disebut “Gada” untuk penari pria dan “Kipas” untuk penari wanita. Musik pengiring tari Ganjar Ganjur adalah musik gamelan yang terdiri dari “Bonang” sebagai alat melodi dan gendang untuk pengiring.

• Musik Tingkilan dan Musik Tradisi
Adalah kesenian tradisional masyarakat Kutai Kartanegara yang berasal dari Pesisir Sungai Mahakam dari Muara sampai ke Hulu. Pada awalnya kesenian musik Tingkilan ini hanya terdiri dari alat musik Gambus dan Ketipung yang dibawa oleh para pedagang Islam masuk ke Kutai Kartanegara. Seiring dengan kemajuan zaman, kesenian ini telah beradaptasi dan berkembang menjadi kesenian musik yang modern, yaitu dengan dimasukkannya alat musik seperti Gitas Akustik, Selo, Jukulele sebagai pelengkap dari Gambus serta Ketipung.

• Tari Gantar Selamat Datang
Tarian ini biasanya diselenggarakan pada saat tamu datang. Tarian ini diadakan tak hanya untuk menyambut para tamu tersebut, namun sekaligus sebagai upacara rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kunjungan tamu ke tempat atau desa tersebut.

• Tari Topeng
Tarian dimana penarinya menggunakan topeng kayu, dalam tradisi budaya Kutai, tarian ini biasanya dipersembahkan sebagai selingan untuk menunggu Upacara Seluang Mudik, mirip dengan Wayang Gedog dari Jawa dan ditampilkan pada acara Penobatan Raja/Sultan, acara perkawinan dan acara penyambutan tamu.

• Hadrah
Merupakan kesenian Islam yang ditampilkan dengan iring-iringan rebana/terbang (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair serta pujian terhadap akhlak mulia Nabi Muhammad SAW, yang diserta dengan gerak tari. Terdiri dari 2 kelompok, kelompok penabur hadrah dan kelompok yang melantunkan syair berjanji. Hadrah biasa dipakai pada acara perkawinan, mengantar orang berangkat haji, hari-hari besar Islam dan sebagainya.

• Mamanda
Merupakan kesenian seni panggung (teater), kesenian klasik melayu (setengah musika/opera) dengan menggunakan instrument Biola dan Gendang. Tema cerita yang dibawakan biasanya tentang kisah para raja.

• Tari Persembahan
Dahulu tarian ini adalah tarian wanita keratin Kutai Kartanegara, namun akhirnyatarian ini boleh ditarikan siapa saja. Tarian yang diiringi musik gamelan ini khusus dipersembahkan kepada tamu-tamu yang datang berkunjung ke Kutai dalam suatu upacara resmi. Penari tidak terbatas jumlahnya, makin banyak penarinya dianggap bagus.

3. Pakaian Tradisonal
• Pakaian Pengantin Kutai Kartanegara
Pakaian ini adalah pakaian kebesaran bangsawan Kutai Kartanegara. Pengantin laki-laki menggunakan mahkota dan sumping berhias roncen. Baju lengan pendek dan hiasan dada yang mewah. Pakaian bawah berupa celana dengan hiasan selendang bentuk lidah-lidah dengan ikat pinggang semacam stagen. Pengantin perempuan bermahkota, ber-sumping dihiasi roncen, baju blus dengan hiasan dada bulan bersusun. Gelang panjang pada kedua pergelangan tangan merupakan suatu tanda kebesaran. Pakaian bawah berupa sarung tenun dengan motif mirip Sidoluhur dan dipadukan dengan hiasan bentuk lidah yang menjurai ke bawah mulai dari pinggang.

• Pakaian Pengampit Pengantin Kutai Kartanegara
Pengapit pengantin Kutai Kartanegara biasanya dilakukan oleh remaja putra dan putrid. Pengapit pengantin laki-laki menggunakan topi lebar dan semacam baju terusan. Hiasan dada berbentuk bulan sabit tiga susun dan pending untuk menyelipkan keris. Pakaian bawah celana panjang dan sepatu. Pengapit pengantin perempuan menggunakan rok terusan bersusun dengan hiasan dada teknis aplikasi.

• Pakaian Deklo
Pakaian Deklo adalah pakaian sehari-hari putra-putri bangsawan Kutai, bentuknya sederhana tapi anggun. Bagian atas berupa baju lengan panjang dan bagian bawah berupa celana panjang dan rok.

• Pakaian Belimbur
Pakaian Belimbur merupakan pakaian yang digunakan oleh bangsawan Kutai Kartanegara dalam upacara Erau. Pihak laki-laki menggunakan baju bermotif batik lengan panjang dengan ikat pinggang dan celana panjang batik dan memakai ikat kepala. Pihak perempuan terdiri atas sanggul mengenakan canduk mentul baju lengan panjang dan selendang tenun untuk ikat pinggang. Pakain bawah adalah sarung batik yang menunjukkan corak melayu.

• Pakaian Ganjur
Pakaian Ganjur merupakan pakaian bangsawan Kutai Kartanegara. Pakaian ini dikenakan ketika menari ganjar ganjur. Pakaian laki-laki terdiri atas tutup kepala seperti mahkota, baju batik lengan panjang berkrah tegak, celana batik sebatas lutut dan dipadu dengan kain batik yang dikenakan semacam rok, kaus kaki panjang dan sepatu. Pakaian perempuan terdiri atas sanggul dan cunduk mentul, kebaya lengan panjang tertutup sampai leher. Kain ikat pinggang dengan kedua ujung sampai sampur. Pakaian bawah bentuk nyamping kain motif rereng dan selop.

• Pakaian Tagwo
Pakaian Tagwo merupakan pakaian bangsawan Kutai Kartanegara dalam upacara penyambutan tamu resmi. Pakain laki-laki terdiri atas ikat kepala, baju lengan panjang dan kain betet wiron. Pakaian perempuan terdiri atas sanggul dan cunduk mentul, baju lengan panjang dengan leher rapat, kain bawah sama dengan laki-laki motif parang-parangan. Corak lain seperti ini merupakan pengaruh batik Jawa Tengah dan Yogyakarta.

• Pakaian Sakai
Pakain Sakai merupakan pakain putra-putri bangsawan Kutai Kartanegara pada acara keluarga. Pakain laki-laki terdiri atas tutup kepala, baju lengan panjang dan celana panjang dengan bahan tenun ikat. Ikat pinggang dari kain warna kuning. Pakaian perempuan terdiri atas sanggul, baju lengan panjang, pakain bawah bahan tenunan sebagai nyamping dan menggunakan selop hak tinggi.

• Pakaian Miskat
Pakaian Miskat merupakan pakaian putra-putri bangsawan Kutai Kartanegara dalam upacara Erau. Pakaian laki-laki terdiri atas topi, baju lengan panjang dengan kain kerah panjang, celana panjang dan sepatu. Sarung dikenakan seperti gaya Melayu. Pakaian perempuan terdiri atas sanggul, kebaya lengan panjang kain motif Parang barong menunjukkan pengaruh batik Jawa.

• Pakaian Kustim
Pakain Kustim merupakan pakaian bangsawan Kutai kartanegara dalam upacara Erau. Pakaian laki-laki terdiri atas tutup kepala, baju jas hitam dengan hiasan dada segi empat dengan aplikasi, celana hitam dan sepatu. Diluar celana ditutup semacam rok terbuka di depan dengan motif lar semen pengaruh batik Jawa. Pakaian perempuan terdiri atas sanggul dengan tusuk konde, baju hitam dihiasi bentuk segi empat, kain nyamping tampak jelas pengaruh batik jawa dan memakai sandal.

• Pakaian Dewa
Pakaian dewa hanya sekadar nama salah satu pakaian tradisional. Oakaian ini khusus digunakan untuk keluarga bangsawan Kutai Kartanegara dalam upacara Erau. Contoh pakaian dewa yang digunakan oleh perempuan terdiri atas tutup kepala, blus lengan pendek terusan, dilengkapi dengan rok model panjang.

b. Seni dan Budaya Suku Dayak
1. Upacara Adat Istiadat
• Upacara Adat Mamat dan Belawing Dayak Kenyah Lepo Tau di Apo Kayan.
Upacara ini merupakan suatu upacara adat yang bersifat insidentil dan serius untuk merayakan kemenangan, kejayaan dan pemantapan keberanian prajurit perang yang pulang dengan membawa beberapa kepala musuh. Pengukuhan tengkorak kepala musuh tersebut menjadi bukti kemenangan mutlak dan keabsahannya, yang kemudian disimpan disebuah tempat yang disebut Amin Bio (Rumah Besar) yang didiami oleh Raja Suku Dayak Lepo Tau (Kepala Adat Besar). Selain itu guna dari upacara adat ini adalah untuk menolak roh-roh jahat. Acara ini dilakukan di sebuah tugu yang disebut Belawing. Tugu ini dihiasi dengan ukiran dan pada bagian puncaknya diberi patung Burung Enggang yang sayapnya terbentang dan menghadap ke arah hulu sungai mengalir. Hal ini melambangkan bahwa seluruh masyarakat tetap hidup rukun damai, jaya dan selalu menang dan berani dalam segala hal.

• Tato dalam Suku Dayak Kenyah
Tato dalam bahasa dayak Kenyah disebut Betik, yang artinya suatu kegiatan dimana seorang ahli tato merajah kulit secara berulang kali dengan menggunakan suatu alat yang terbuat dari kayu yang pada bagian ujungnya terdapat jarum rangkap tiga. Sebelum tato dibuat, kulit orang yang akan ditato dihitamkan dengan arang kuali kemudian dicap dengan ukuran yang disepakati. Penggunaan tato dalam masyarakat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
o Tato untuk bangsawan (Paren) ornament yang lebih halus, khusus dan mempunyai lambang tertentu;
o Tato untuk golongan menengah (Payen), ornament yang dibuat untuk golongan ini biasanya agak besar;
o Tato untuk rakyat biasa, tato ini hanya dibuat pada bagian tubuh tertentu saja dan terkadang bisa dibuat sendiri.

Tato merupakan lambang identitas diri dalam lapisan masyarakat. Biasanya pembuatan tato ini dilakukan setelah panen dan memerlukan waktu berminggu-minggu, karena kulit akan membengkak dan darah membiru. Ini melambangkan ketahanan daya fisik dan mental orang yang ditato.

• Hudoq
Adalah topeng yang dibuat dari kayu play/jantung yang dilukis menurut wajah dewa. Hudoq merupakan penjelmaan dari para dewa yang berdiam di tempat-tempat tertentu menurut kepercayaan Suku Dayak. Menurut kepercayaan mereka, biasanya Hudoq diundang turun ke dunia oleh mereka pada saat menanam padi. Hudoq datang untuk berdialog dengan masyarakat dan menari serta bergaya menurut irama gong. Tarian ini merupakan ungkapan kegembiraan hati orang-orang dibumi dalam menerima tamu yang membawa keselamatan dan rejeki yang murah. Adapun makna kedatangan hudoq ini ke dunia adalah untuk membawa rejeki murah, hasil yang melimpah ruah serta membasmi segala macam penyakit baik manusia maupun tanaman padi yang baru ditanam.

• Belian
Upacara Belian adalah upacara yang ditujukan untuk meminta doa restu kepada sanghyang. Menurut pekerjaannya, belian terbagi atas dua, yakni Belian Besar seperti Timbek (brampanan) dan Nyemak (belian Naik Ayun bagi perempuan) serta Belian Kecil seperti Bao (berobat), Poje (Puhunan), Sentiu (minta kepada dewa) dan Kuyang (berobat).

• Upacara Kwangkai
Upacara Kwangkai mengandung pengertian sebagai upaya membalas budi sang anak kepada orang tuanya. Secara harfiah Kwangkai berarti ‘adat Bangkai Mal’ atau ‘upacara adat bagi orang yang telah lama meninggal dunia’. Maksudnya adalah suatu proses kegiatan komunitas Dayak Tunjung untuk memindahkan tulang belulang yang setelah melaluin tahap upacara tohoq dan upacara kenyau, kemudian mewmindahkannya kepemakaman baru dengan terlebih dahulu dibawa ke dalam Lamin atau rumah adat. Upacara ini sifatnya kolektif dan selalu disertai dengan pesta besar yang melibatkan banyak orang sebagai upacara kematian yang terkahir dan terbesar. Selama sebulan, setiap malam berlangsung upacara memberi makanan kepada roh, yang dilakukan oleh penyentangi (pawing perempuan), meminyaki, menmyisiri dan membedaki tengkorak dengan sikap yang cermat dan khitmad. Selanjutnya diadakan tarian khusus untuk upacara adat kematian, yang dilakukan oleh empat belas orang laki-laki dan empatbelas orang perempuan secara bergiliran, laki-laki terlebih dahulu. Pada waktu menari beberapa orang diantara para penari laki-laki menggendong tengkorak-tengkorak yang dibungkus kain batik. Tarian ini diiringi oleh seperangkat alat musik tradisional yang terdiri atas gong, tambur pendek, tambur panjang serta kelontongan (kenong).

Pada siang hari biasanya dilakukan penyembelihan binatang seperti kerbau, babi dan ayam. Kemudian, para perempuan atau kaum ibu membuat kue untuk menjamu para undangan dan kerabat yang datang pada upacara tersebut.

2. Tari-tarian
a. Tari Kancet Lasan Po’Buruy
Adalah tarian yang berasal dari Suku Dayak Kenyah di pedalaman Kutai Tenggara. Tari ini mengisahkan sekelompok pemuda yang sedang pergi berburu ke hutan belantara, namun selama dalam perjalanan berburu tersebut mereka tidak melihat dan menemukan seekor buruanpun. Tiba-tiba muncul seekor burung Enggang yang terbang dari pohon satu ke pohon satu lain. Ketika burung tersebut ditangkap, tiba-tiba saja ia berubah wujud seperti putrid yang cantik jelita. Sang putrid memohon kepada para pemuda tersebut untuk tidak membunuhnya. Ia berjaji akan memberi pelajaran menari kepada pemuda dan pemudi dikampung tersebut, dia minta untuk dilepaskan kembali untuk pulang ke khayangan dengan diantar oleh seluruh masyarakat dengan suka cita. Oleh sebab itu, bagi masyarakat suku Dayak Kenyah, burung Enggang merupakan lambang perdamaian dan keagungan bagi masyarakat.

b. Tari Mempang Bekawat
Adalah sebuah tari garapan dengan tidak meninggalkan keaslian gerakan tari ini, yaitu Tari Belian, tari Ngelawai dan tari Gantar yang berasal dari suku Dayak Benuaq Tunjung yang hidup dan berkembang di Kabupaten Kutai Kartanegara. Tarian ini diangkat dan diilhami oleh proses pelaksanaan upacara pengobatan untuk kesembuhan berbagai penyakit secara tradisional. Tarian ini diawali dengan “Memang” yang diiringi Suling Dewa sebagai symbol yang menggambarkan proses pemanggilan roh-roh halus oleh pawing Belian. Setelah proses pemanggilan selesai, selanjutnya dilakukan proses pemujaan dengan maksud meminta pertolongan dengan roh-roh halus tersebut. Tari Mampang Bekawat ini diiringi oleh berbagai alat musik, antara lain: Suling Dewa, Kelentang/Gamelan Benuaq Tunjung, Gendang dan Gong.

c. Tari Perang-Tari Gong
Adalah tarian tradisional Suku Dayak Kenyah yang mengisahkan tentang perkelahian atau pertempuran dua orang pemuda yang ingin mempersunting seorang gadis pujaan mereka. Untuk dapat gadis tersebut mereka melakukan perkelahian dengan menggunakan Mandau dan Tameng sebagai alat untuk membela diri. Perkelahian ini disaksikan oleh gadis yang mereka idamkan, sang gadis menari diatas sebuah gong dengan gaya yang lemah gemulai dengan diiringi alat musik yang disebut Sampe.

d. Tari Dewa Memanah
Tarian ini dilakukan oleh kepala Ponggawa dengan mempergunakan sebuah busur dan anak panah yang berujung lima. Ponggawa mengelilingi tempat upacara diadakan sambil mengayunkan panah dan busurnya ke atas dan ke bawah, diserta pula dengan bememang (membaca mantra) yang isinya meminta pada Dewa agar Dewa-dewa mengusir roh-roh jahat, dan meminta ketrentraman, kesuburan, kesejahteraan untuk rakyat.

e. Tari Belian Bowo
Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tarian ini sering disajikan pada acara-acara mpenerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

f. Tari Penhos
Tarian ini diilhami dari Upacara Adat Penhos, yaitu upacara adat dalam suku Dayak Modang yang dilakukan dengan tujuan untuk mebuang sial atau bala. Masyarakat Dayak Modang menganggap bahwa perbuatan yang dapat menimbulkan sial apabila tidak dibersihkan dari dosa akan bisa mendatangkan malapetaka bagi masyarakat didalam desa tersebut. Oleh karena itu, dilakukan upacara Penhos yang dimulai dengan membuang sial dan tolak bala serta pembersihan alat atau perkakas yang disebut “Ngeong Lemeah”. Semua warga desa atau kampong diwajibkan menjalani tabu atau berpuasa dalam waktu yang telah ditentukan. Dalam tarian Penhos dikisahkan sepasang muda mudi yang telah melanggar adat. Mereka meredamkan diri berkali-kali ke dalam air, sebagai pembersihan dosa dan pembersihan kampong.
Tarian ini biasanya ditarikan oleh muda mudi yang berpasangan saat ada keramaian atau pertemuan. Merupakan kesenian khas Melayu dengan sedikit pengaruh dari kesenian Arab, diiringi instrument Gambus dan Ketipung (gendang kecil).

g. Tari Kuyang
Sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusias atau orang yang menebang pohon tersebut.

h. Tari Pecuk Cina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.

i. Tari Datun
Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.

j. Tari Ngerangkau
Adalah tarian adat dalam hal kematian dari Suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alata penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar hingga menimbulkan irama tertentu.

k. Tari Braga Bagantar
Awalnya Baraga’ Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.

3. Pakaian Tradisional
a. Pakaian Dayak Kenyah
Para laki-laki terdiri atas hiasan kepala, rompi dengan hiasan dari taring binatang dan kain tenun. Suatu peralatan yang menyatu dengan suku ini adalah senjata mandau dan tameng atau perisai. Ragam hiasan pada perisai yang khas biasanya adalah penlih, sejenis mahluk legenda yang dipercaya oleh masyarakat Dayak Kenyah.

Busana upacara laki-laki terdiri atas tutup kepala berhias untaian manik-manik, baju rompi berhias taring binatang, pakaian bawah dari kain tenun dengan bagian depan menjurai ke bawah, tumbuhnya dihiasi dengan tato yang merupakan kebanggaan (gengsi).

Pakaian upacara perempuan terdiri atas tutup kepala, baju dan sarung dari bahan dan warna yang sama. Ragam hiasan cumi-cumi yang distilir dan binatang0binatang legenda (penlih) merupakan cirri khas Dayak Kenyah. Pakaian tari berupa baju lengan panjang dilengkapi rompi hitam dengan pakaian bawah berupa sarung Dayak.

b. Pakaian Dayak Benoaq
Pakaian laki-laki suku Dayak Benoaq berupa tutup kepala, baju tenun tanpa lengan, dengan tertutup bagian bawah seperti rok. Pakaian perempuan berupa hiasan kepala seperti lilitan tali, blus tanpa lengan dengan bagian depan yang menjurai kain atau sarung tenun.

c. Seni Pahat dan Patung
1. Patung Ajimat
Patung sebagai ajimat terbuat dari berbagai jenis kayu yang dianggap berkhaiat untuk menolak penyakit atau mengembalikan semangat orang yang sakit

2. Patung Kelengkapan Upacara
Patung-patung kecil untuk kelengkapan upacara biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara adat seperti pelas tahun, kuangkai, dan pesta adat lainnya. Patung kecil ini terbuat dari berbagai bahan, seperti kayu, bamboo hingga tepung ketan.

d. Seni Karya
1. Perisai / Kelembit
Merupakan alat penangkis dalam peperangan melawan musuh. Perisai terbuat dari kayu yang ringan tapi tidak mudah pecah. Bagian depan perisai dihiasi dengan ukiran, namun sekarang ini kebanyakan dihiasi dengan lukisan yang menggunakan warna hitam putih atau merah putih. Motif yang digunakan untuk menghias perisai terdiri dari 3 motif dasar:
1. Motif Burung Enggang (Kalung Tebengaang)
2. Motif Naga/Anjing (Kalung Aso’)
3. Motif Topeng (Kalung Udo’)

Selain sebagai alat pelindung diri serangan musuh, perisai juga berfungsi sebagai:
• Alat penolong sewaktu kebakaran/melindungi diri dari nyala api
• Perlengkapan menari dalam tari perang
• Alat untuk melerai perkelahian
• Perlengkapan untuk acara Belian
• Kini perisai banyak dijual sebagai souvenir/penghias dekorasi rumah tangga.

2. Anjat
Alat berbentukseperti tas yang terbuat dari anyaman rotan dan memiliki dua atau tiga sangkutan. Anjat biasanya digunakan untuk menaruh barang-barang bawaan ketika bepergian.

3. Bening Aban
Alat untuk memanggul anak yang hanya terdapat pada masyarakat suku Dayak Kenyah. Alat ini dibuat dari kayu yang biasanya dihiasi dengan ukiran atau dilapisi dengan sulaman manik-manik serta uang logam.

4. Sumpitan
Alat yang biasa digunakan untuk berburu atau berperang yang dikenal oleh hamper seluruh suku Dayak di Kalimantan. Alat ini terbuat dari kayu ulin atau sejenisnya yang berbentuk tongkat panjang yang diberi lubang kecil untuk memasukkan anak sumpitan. Sumpitan dilengkapi dengan sebuah mata tombak yang diikatb erat pada ujungnya dan juga dilengkapi dengan anak sumpitan beserta wadahnya (selup).

5. Searaung
Topi berbentuk lebar yang biasa digunakan untuk bekerja diladang atau untuk menahan sinar matahari dan hujan. Kini nbanyak diolah seraung-seraung ukuran kecil untuk hiasan rumag tangga.

6. Mandau
Merupakan senjata tradisional khas suku Dayak yang menyerupai pedang. Mandau terbuat dari besi dengan gagang terbuat dari kayu atau tulang. Sebelum pembuatan dimulai, terlebih dahulu dilakukan upacara adat sesuai dengan tradisi dari masing-masing suku dayak.

7. Manik
Keajinan manik-manik khas suku dayak biasanya dibuat menjadi pakaian, menghias topi/seraung maupun bening aban. Kini banyak hasil kerajinan manik-manik yang diolah menjadi tas, kalung, gelang, gantungan kunci dan aneka macam hiasan lainnya.

8. Kain Tenun
Kerajinan tenunan khas masyrakat setempat adalah Ulap doyo. Kain tenunan ini terbuat dari serat daun doyo (Curculigo Latifolia). Daun doyo yang digunakan untuk membuat benang adalah yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua karena seratnya lembut, tetapi kuat. Kemudian daun doyo dikerat slebar 4 cm. Kulit luar daun dipisahkan dari daunnya dan dikerik hingga putih, lalu dikeringkan. Warna dasar ulap doyo pada umumnya adalah hitam, coklat dan merah. Ciri khas ragam hias tenun doyo adalah titik-titik hitam. Bentuk ini dihasilkan dengan cara pengikatan sebelum dicelup kedalam bahan pewarna. Motif ulap doyo disesuaikan dengan alam sekitar, seperti motif flora dan fauna, kadang gambar manusia, benda atau sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk motif khas seperti limar (perahu), kinas (ikan), dan naga. Hasil tenunan ulap doyo ini digunakan antara lain untuk membuat baju, rok, selendang, ikat kepala, daster, kopiah dan seraung.

Kain dan serat daun doyo ini merupakan hasil kerajinan yang hanya dibuat oleh wanita-wanita suku Dayak Benuaq yang tinggal di Tanjung Isuy. Tanaman doyo yang menyerupai pandan tumbuh dengan subur di Tanjung Isuy. Serat daunnya kuta dan dapat dijadikan benang untuk di tenun. Tenunan doyo ini kemudian sering diolah menjadi pakaian, kopiah atau hiasan dinding.

9. Kerajinan Rotan
Barang-barang kerajinan yang dibuat dari rotan antara lain adalah jalik (tikar), belayat (tas atau ransel), keranjang, bakul, dan perhiasan kepala. Perhiasan kepala yang terbuat dari rotan pada suku Dayak Kenyah disebut tangup, sedangkan pada suku Dayak Bahau, perhiasan kepala yang terbuat dari bahan rotan atau kain disebut lavung kelotaq.

*** tuani sianipar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Informasi Kota Tenggarong Kutai Kartanegara dan Seputar Pelayanan di Jemaat GPIB EFATA Tenggarong

%d bloggers like this: